Selasa, 10 Februari 2015

Pantun Terbaru & Terupdate 2015


Burung kakak tua
Hinggap di jendela,
Siapa yang jatuh cinta
Pasti cemburu buta

Orang Palembang menanam padi
Negeri Malaka negeri seberang,
Putus cinta jangan bersedih
Karena jalan masih panjang.
Sungguhlah indah si burung pipit
Terbang yang tenang si burung dara,
Bila ku tahu bercinta itu sakit
Takkan ku mulai dari semula.
Minum arak pahit rasanya
Tidak cocok untuk anak kuliah,
Apalah daya sudah usaha
Belum apa-apa sudah binasah
Anak ayam turun ke kali
Bermain air riang gembira,
Betapa senangnya bisa ngejunk lagi
Memburu kata mengejar tawa.
Bila terluka berkata begitu
Hingga lupa cinta yang suci
Cinta manusia memanglah begitu
Cinta pada-Nya cinta yang sejati
Cinta tak memandang bulu
Cinta juga tak mengenal waktu,
Rasakan cinta di hatimu
Betapa indah mengikis kalbu
Hati-hati minum di gelas
Kalau terlepas pecahannya nanti,
Cinta hati selalunya ikhlas
Cinta buta yang makan hati.
Mulanya duka kini menjadi lara
Teman tiada hanyalah sendu,
Bila rindu mulai membara
Itulah tanda cinta berpadu.
Anak unta siapa yang punya
Menangis iba kehilangan ibu,
Bila cinta sudah menyapa
Rindu mulai membara di kalbu.
Naik kereta merk nya honda
Pergi selayang ke rumah Hanapi,
Bila cinta mekar di dada
Siang terkenang malam termimpi.
Pisang nangka buat kolak
Jambu biji diblendrin,
Kalo nona tetep galak
Lebaran depan ga dimaafin.
Bau-bau jembatan tujuh
Tempat memungut sebuah lolah,
Kalau adinda sudah setuju
Tunggu saya tamat sekolah.
Jika aku seorang pemburu
Anak rusa kan kudapati
Jika dinda merasa cemburu
Tanda cinta masih sejati.
Ke Cimanggis membeli kopiah
Kopiah indah kan kudapati,
Begitu banyak gadis yang singgah
Hanya dinda yang memikat hati.
Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang serai,
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai.
Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan condongnya,
Dunia ini pinjam-pinjaman
Akhirat juga akan sungguhnya.
Kalau tuan jalan ke hulu
Carikan saya bunga kamboja,
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu syurga.
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Tuan jauh di negeri satu
Hilang di mata di hati jangan.
Dari mana punai melayang
Dari paya turun ke padi,
Dari mana datangnya sayang
Dari mana turun ke hati.
Buah berangan masaknya merah
Kelekati dalam perahu,
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa yang tahu.
Simpan mercun dalam almari
Takut terbakar jari dan muka,
Sambil kita memuji Ilahi
Panjatkan doa untuk yang tiada.
Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah,
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah.
Tiap nafas tiadalah kekal
Siapkan bekal menjelang wafat,
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sabar ilmu manfaat.
Ke hulu membuat pagar
Jangan terpotong batang durian,
Cari guru tempat belajar
Supaya jangan sesal kemudian.
Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat,
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat.
Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian,
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan.
Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan,
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi,
Kala nyawa tinggal di ubun
Turutlah ilmu insan nan mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar